BEBERAPA PERMASALAHAN UMUM YANG SUDAH SEJAK LAMA MENGHADANG PERINDUSTRIAN MANUFAKTUR

BATAM. PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) akan menggenjot jumlah produksi dan penjualan minuman dalam kemasan bermerek di tahun ini. Langkah ini dilakukan oleh Kalbe untuk mengimbangi penurunan margin produk farmasi. "Kami optimistis pertumbuhan pasar Hydro Coco akan meningkat 40% setiap tahun," ujar Ronald Unadi, Head of Marketing & Sales RTD KLBF. Saat ini produksi Hydro Coco mencapai 55 juta kemasan per tahun. Angka ini setara dengan 13,75 juta ton air kelapa. Ini artinya pada tahun ini penjualan Hydro Coco bisa meningkat 72 juta kemasan.
Foto: Avanty Nurdiana

Meskipun sebelumnya Kementerian Perindustrian Indonesia sempat menyatakan bahwa perindustrian manufaktur skala mikro sampai yang berskala besar menunjukkan geliat pertumbuhan yang cukup positif, namun tetap saja tidak dapat disangkal juga masih terdapat beberapa kendala yang akan selalu mengintai dan harus tetap diwaspadai. Setidaknya dari sekian banyak berbagai permasalahan yang paling banyak terjadi pada industri manufaktur, berikut ini adalah beberapa di antaranya:

1 Ut1RAj2EJ4UJP-S1VyEJKA1. Masih kurangnya dana investasi untuk bagian Research & Development.

Baik itu adalah jenis perusahaan manufaktur yang berskala lebih besar maupun yang berskala kecil, minat untuk berinvestasi untuk menjalankan riset yang lebih bermanfaat dalam hal pengembangan produk atau teknologi baru biasanya terbilang masih sangat kecil.

2. Kendala kompetisi global dengan perusahaan-perusahaan manufaktur yang jauh lebih murah.

Sebut saja Negara Tiongkok misalnya, yang selalu menjadi kompetitor terberat bagi Negara-negara barat. Bagaimana tidak, dari sisi material seperti plastik, logam, sampai dengan elektronik yang jauh lebih murah yang sudah diproduksi oleh negara ini menjadikan perindustrian  manufaktur kita, bahkan negara-negara lainnya semakin kewalahan dalam menghadapi persaingannya.

3. Kekurangan pangsa pembeli potensial untuk jenis-jenis produk yang berharga sangat tinggi.

Pangsa pasar Indonesia akan selalu menjadi daya tarik terbesar bagi para investor, karena populasi dan kepadatan penduduknya yang begitu besar yang memberikan pangsa pasar yang begitu besar. Namun ternyata karakteristik dari pasar yang sangat “cost-effective” akan semakin memaksa industri untuk terus menekan harga. Hal yang tidak mudah tentunya bagi sebuah industri.

4. Kurangnya kemampuan dalam beradaptasi pada industry.

Untuk saat ini tren dan teknologi yang terus berubah dengan sangat cepat, produk-produk baru dengan desain baru terus berdatangan, produk lama akan semakin ditinggalkan oleh pasar dengan sangat cepat. Jika tidak disertai dengan kemampuan dalam beradaptasi yang cepat pula, maka perusahaan manufaktur tentu saja tidak akan mampu bertahan lebih lama.

5. Kualitas dari sumber daya manusia yang terbilang masih relatif lebih rendah.

Hal ini akan semakin tercermin dari tingkat produktivitas tenaga kerja yang masih kurang kompetitif dan tingkat kekakuan atau rigiditas dari pasar tenaga kerja yang terlalu tinggi. Tidak hanya akan menyorot pada karyawannya saja, namun juga dalam hal permasalahan kepemimpinan. Dari semua industri penghasil produk dan jasa, learning process yang paling banyak terjadi pada sektor perindustrian manufaktur. Karena itulah, dibutuhkan adanya pemimpin yang cukup mampu dalam mengatasi terjadinya konflik antar setiap fungsi-fungsi manajerial.

Bagaimana, menurut Anda apakah para pelaku industri manufaktur ini apakah baik-baik saja? Apa kendala terbesar yang sudah Anda hadapi selama ini? Jika Anda merasa tertarik dengan strategi HR (Human Resource) lainnya, Maka Groedu Consultan lah solusinya. Anda bisa menghubungi kami via WhatsApp 0812-5298-2900 atau email ke groedu@gmail.com. Tim kami akan siap membantu Anda dan kami tunggu kabar baiknya dari Anda.