
Divisi HR pada masa sekarang tentunya tidak lagi sama dengan divisi HR dari masa beberapa tahun yang lalu. Sekarang, divisiHR pada setiap perusahaan tidak lagi hanya berfokus tentang pengelolaan SDM nya saja. Namun lebih daripada itu, sebenarnya terdapat empat peran utama yang harus dilaksanakan oleh oleh divisi HRD, dan salah satunya adalah sebagai mitra bisnis strategis. Intinya, divisi HR diharapkan harus mampu berkontribusi lebih besar terhadap pencapaian dari kinerja organisasi perusahaan.
Dave Ulrich, seorang HR Champion, yang telah menjabarkan dengan lebih jauh tentang peran penting divisi HR sebagai mitra bisnis strategis (strategic business partne)r. Untuk dapat menjalankan peran tersebut, maka perusahaan akan dituntut untuk lebih meningkatkan pangsa pasarnya, meningkatkan kepuasan pelanggan, dan lebih berfokus kepada area bisnis yang paling menguntungkan. Bagaimana tim HR perusahaan agar bisa menjalankan perannya sebagai mitra bisnis strategis secara lebih tepat?
1. Pahami terlebih dahulu antara fungsi personalia dan HRD.
Sebenarnya antara fungsi personalia dan HRD tidaklah sama. Secara umum, tugas personalia adalah lebih berfokus kepada serangkaian kegiatan SDM dalam hal menangani berbagai urusan yang berhubungan dengan administratif, misalnya seperti proses payroll, database karyawan, dan lainnya sebagainya, sementara tugas utama dari HRD adalah untuk menangani berbagai hal yang berhubungan dengan karyawan, mulai dari proses rekrutmen, pengembangan, evaluasi, konsultasi, administrasi, sampai dengan tindakan PHK. Namun, terkadang memang terdapat bebeapa perusahaan yang lebih memilih untuk menggabungkan antara fungsi HRD dan personalia sehingga banyak orang yang menganggap bahwa keduanya adalah sama saja, padahal sebenarnya berbeda peran dan fungsi masing-masing jabatan tersebut.
2. Peran HR sebagai mitra bisnis strategis.
Peran penting HR sebagai mitra bisnis strategis adalah harus dapat menyelaraskan terhadap seluruh strategi dan berbagai tindakan yang dilakukan harus sama dengan tujuan perusahaan. Anda akan semakin dituntut untuk mengidentifikasikan keterkaitan antara strategi perusahaan dengan fungsi-fungsi lain yang harus dilakukan oleh tim HR. Berdasarkan informasi yang telah didapatkan, barulah selanjutnya Anda akan bisa memberikan kontribusi yang lebih relevan dan cukup signifikan terhadap target dari pencapaian perusahaan. Untuk bisa mengetahui sejauh mana peran dari divisi HRD sebagai mitra bisnis strategis, maka perusahaan harus melakukan evaluasi terlebih dahulu.
3. Harus memiliki tiga kompetensi utama.
Dibutuhkan berbagai persiapan yang tidak sebentar jika Anda memang berniat untuk lebih mengoptimalkan peran dari divisi HRD sebagai mitra bisnis strategis. Dave Ulrick menyebutkan bahwa HR setidaknya minimal harus memiliki tiga kompetensi bisnis utama, yaitu:
• Penentu posisi strategis (Strategic positioned).
Kompetensi ini terkait dengan adanya peran penting divisi HR dalam mendorong terjadinya pertumbuhan bisnis yang diinginkan oleh perusahaan demi terciptanya keunggulan yang lebih kompetitif. Karena hal itulah, maka divisi HR akan semakin dituntut untuk memahami bisnis dan cara menjalankannya.
• Aktivitas yang bisa dipercaya (Credible activist).
Divisi HR harus mampu dalam mendapat kepercayaan dari pihak manajemen atau dari pimpinan perusahaan serta para karyawan sebagai partner kerja yang lebih kredibel serta dapat diandalkan. Dalam hal ini, kemampuan dalam berkomunikasi dari divisi HR memang sangat diandalkan, karena sebagai mitra bisnis strategis, divis HR harus bisa menyampaikan aspirasi para karyawan terhadap pimpinan sekaligus untuk mengkomunikasikan berbagai kebijakan dari pimpinan terhadap para karyawan.
• Navigator paradok (Paradox navigator).
Kompetensi seperti ini lebih menuntut divisi HR untuk menjadi divisi yang lebih fleksibel, terutamanya jika berhubungan dengan finansial perusahaan perusahaan. Divisi HR harus bisa lebih peka terhadap bagaimana kondisi finansial perusahaan saat ini agar dapat lebih menyelaraskan strategi mereka dengan apa saja kebutuhan perusahaan saat ini.
4. Didukung dengan enam kompetensi bisnis tambahan.
Berdasarkan dari ketiga kompetensi utama tersebut, kompetensi HR dikembangkan lagi menjadi enam kompetensi tambahan, yaitu:
• Manajer kepatuhan (Compliance manager).
Tidak hanya harus mematuhi regulasi perusahaan, divisi HR juga harus dapat mencegah karyawan agar tidak sampai melakukan ketidakpatuhan. Dengan begitu, maka divisi HR sebagai
mitra bisnis strategispun berfungsi untuk menjaga profil resiko perusahaan.
• Perancang analis dan juru bahasa (Analytics designer and interpreter).
Aktivitas HRD yang telah melibatkan banyak sekali data-data penting yang dapat dimanfaatkan untuk mengambil keputusan dengan lebih strategis. Seperti contoh, berdasarkan data, terdapat karyawan yang lebih ahli dalam bidang finansial yang background-nya adalah malah justru berasal dari marketing. Nah, karena karyawan tersebut bisa diminta untuk membantu divisi marketing pada saat misalnya load pekerjaan yang sedang tinggi.
• Teknologi dan integrator media (Technology and media integrator).
Proses kerja dari divisi HRD tidak pernah bisa dilepaskan dari peran teknologi, yang memang berfungsi untuk lebih memudahkan dan mempercepat pekerjaan sehari-hari mereka.
• Budaya dan mengubah juara (Culture and change champion).
Divisi HR harus dapat menjadi “tali perekat” untuk membantu karyawan yang ingin lebih meningkatkan komitmennya terhadap perusahaan, yaitu dengan menciptakan budaya yang lebih terbuka dan tetap transparan.
• Human capital curator.
Kompetensi ini mengharuskan divisi HR untuk memastikan bahwa setiap proses yang telah dilakukan telah sejalan dengan berbagai kebutuhan perusahaan.
• Total Rewards Stewards.
Meningkatkan kesejahteraan karyawan dengan jalan memberikan penghargaan yang sepatutnya mereka terima. Hal ini diharapkan akan mampu semakin meningkatkan retensi para karyawan. Pada zaman yang sudah semakin maju, divisi HR akan terus dituntut untuk memberikan performa terbaiknya bagi perusahaan. Tidak lagi sekedar untuk bertanggungjawab terhadap hal-hal yang berhubungan dengan karyawan saja, namun divisi HR juga harus mampu untuk berperan aktif sebagai strategic business partner. Itu Artinya, divisi HR juga harus mampu untuk lebih menyelaraskan proses kerja dan strateginya dengan target dari perusahaan. Agar bisa menjadi lebih fokus dalam menjalankan peran penting sebagai mitra bisnis strategis, maka sebaiknya manfaatkan penggunaan software HR untuk menangani dan mengelola segala urusan administrasi HR Anda dengan lebih cepat dan praktis.
Apabila pembaca membutuhkan bantuan dan pendampingan tentang perkembangan bisnis dan konsultasi bisnis atau seputar software HRD dan Payroll, software akuntansi, silahkan hubungi 0818521172, Simpati : 081-252-982-900, Office (only call no sms) : 0811-3444-910 atau email ke groedu@gmail.com bisa juga groedu_inti@hotmail.com



