JENIS-JENIS ENGINEERING DALAM INDUSTRI MANUFAKTUR DAN PERMASALAHAN TURN OVER TEKNISI AHLI MENJADI MIMPI BURUK PERUSAHAAN


Sepintas bagian Engineering atau Maintenance berisi orang-orang multi high skill (memiliki keterampilan tinggi). Untuk pernyataan seperti ini, sangatlah tidak mengherankan bahwa orang-orang pada bagian ini sudah terbiasa bekerja secara one man show. Begitu pula dengan bagian engineering, orang-orang dengan keahlian khusus seperti ini terkadang justru merasa lebih nyaman apabila  bekerja secara sendiri-sendiri.

Namun sebenarnya juga tidak benar-benar pas apabila dikatakan bahwa semua para engineer lebih merasa nyaman jika bekerja seorang diri. Akan tetapi ini memang realitanya, saat lebih memerlukan teknisi lain untuk problem solving. Teknisi seperti ini malah lebih memilih para Helper atau teknisi pembantu, dengan pertimbangan safety saat bekerja dan operasionalnya.

Dari sisi mentalitasnya, terdapat dua macam type teksnisi. Type Engineer dan Type Tukangnya Engineer/Helper.

1. Type Engineer (Engineer Utama).

Tidak berarti harus insinyur sarjana teknik, akan tetapi sudah memiliki konsep bekerja seorang engineer, diantaranya memiliki minat dalam rekayasa teknik, dan termotivasi untuk menjaga dan meningkatkan performance mesin manufaktur. Teknisi yang masuk pada type ini, melihat knowledge dan skill sebagai modal utama, terdapat minat yang sangat besar untuk memperdalam spesialisasinya dan  berusaha menguasai bidang keilmuan lain yang dapat menunjang kinerja mereka meski pada tingkat basic. Misalnya saja : seorang Teknisi mekanik industry manufaktur, juga menguasai electric, instrumentasi, drawing design, manajemen perawatan, dan lain-lain. Jadi benar-benar tingkat dasar ilmunya dalam menunjang untuk melakukan rekayasa teknik dan koordinasi lintas bidang keilmuan dan industry manufaktur.

2. Type Tukangnya Engineer/Helper (Engineer Pembantu).

Sarjana Teknik-pun juga terkadang memiliki karakter seperti ini. Teknisi yang masuk pada kategori ini adalah :

1. Lebih mengutamakan pengalaman apabila dibandingkan dengan kedalaman proses berpikir dalam menganalisis permasalahan.
2. Melihat bidang keilmuan hanya dari sisi yang sangat sempit Mekanik ya mekanik, electric ya electric, dan seterusnya. Sama sekali tidak ada minat untuk mempelajari bidang lain, sehingga memiliki  banyak keterbatasan dalam melakukan rekayasa teknik. Meskipun bisa tidak lebih dari sekedar menjadi “Helper” engineer saja.

Yang dimaksud orang dengan keahlian khusus, yaitu Teknisi yang masuk Type satu. Perusahaan tidak akan pernah merasa segan atau ragu untuk memberikan penawaran yang sangat tinggi untuk merekrut mereka, apalagi jika mereka berada pada rentang usia yang masih terbilang sangat muda yaitu seusia antara 25 – 30 tahun. Maka dari sinilah letak permasalahnya, yaitu bisa dikatakan juga dengan “ Pembajakan tenaga kerja “. Faktor Ekonomi yang biasanya menjadi alasan utama mereka, ahli-ahli mesin berkeahlian khusus  ini seringkali berpindah-pindah dari  satu perusahaan manufaktur kepada perusahaan manufaktur lainnya.

Lalu apa yang kemudian  terjadi? Bagaimana nasib perusahaan yang telah ditinggal oleh teknisi engineer tersebut? Mau tidak mau perusahaan harus tetap mencari teknisi ahli pengganti lain yang baru dan harus memulai dari awal untuk proses pembelajaran dan adaptasi ulang. Dan biasanya perusahaan manufaktur yang dituju juga akan merasa semakin was-was apabila ditinggalkan pergi lagi oleh teknisi baru tersebut meskipun dengan resiko “new  boss and new rule/bos baru dan peraturan baru”, strategi lama akan terputus dan akan mulai dengan pembentukan strategi baru lagi.

Pada kenyataannya dunia industri manufaktur dari sisi Engineeringnya telah menawarkan kesempatan untuk mengenal berbagai terobosan teknologi-teknologi baru, berimprovisasi dan mengupgrade skill, dimana dari sudut pandang individu apa yang didapatkan (experience, kowledge, skill) akan semakin berdampak langsung pada nilai jual. industri manufaktur konvensional  sangat tergantung kepada individu, namun industri modern ternyata lebih tergantung kepada sistemnya. Sistem yaitu interaksi yang sinergis antara semua komponen yang saling berhubungan, ada didalamnya human resources, metode kerja dan lain sebagainya.

Hal ini sudah sangat jelas akan menjadi permasalahan yang begitu kompleks bagi kebanyakan perusahaan, namun pastinya tetap akan ada solusinya yaitu dengan cara berikut ini :

1. Dokumentasi.

Apabila semua permasalahan dalam hal permesinan di mapping terlebih dahulu setelah itu menetapkan standard perbaikan. Apabila semua sudah terdokumentasi, mulai dari Drawing Parts Mesin, Sistem operasional mesin, Problem solving, langkah Perbaikan, dan lain-lain terkait hal teknis lainnya,  Budaya One Man Show berangsur-angsur akan semakin menghilang dengan sendirinya, dan bergeser kepada model kerja kolektif. Perlu untuk diingat, bahwa dokumentasi maintenance banyak menyangkut hal-hal yang sangat rahasia (very confidential), Anda wajib memiliki mekanisme untuk menjamin kerahasiaannya.

2. Penerapan Sistem Penilaian Performance Berbasis obyektivitas Kinerja.

Dengan adanya sistem ini, Gap atau Selisih antara Skill standard dengan actual yang dimiliki akan terlihat secara obyektif. Kuncinya adalah terletak kepada data, umumnya semua orang sudah merasa bekerja dengan baik dan benar, akan tetapi jika tidak berbicara tentang data obyektif, maka akan banyak sekali miss komunikasi. Sistem TPM yang menyediakan formulasinya, tinggal diolah dengan MBO atau Performance Approval system lainnya. Setelah itu lakukan Trainning secara rutin untuk pembekalan Basic Skill, melatih urutan kerja, kemampuan analisa masalah, dan lain sebagainya.

Apabila pembaca membutuhkan bantuan dan pendampingan tentang perkembangan bisnis dan konsultasi bisnis atau seputar software akuntansi, silahkan hubungi 0818521172, Office (only call no sms)  : 081-59417699 atau email ke groedu@gmail.com bisa juga groedu_inti@hotmail.com